Cerita Korban

Bukannya Bertambah Keluarga, Perkawinan Malah Membuat Kehilangan Keluarga

Perkawinan seharusnya bawa kebahagian, tapi gara-gara oplosan jadi kesedihan.

Stop Oplosan

Seperti layaknya keluarga lain yang sedang berbahagia, di sebuah perkampungan kecil di Kota Palembang, gendang tari-tarian sedang ditabuh untuk merayakan pernikahan seorang gadis kampung dengan laki-laki idaman hatinya. Para penari berlenggak-lenggok mengikuti irama lagu, melambangkan kebahagian kedua mempelai atas suatu masa depan bersama.

Esensi pernikahan terwujud dalam perayaan. Beberapa memiliki tradisi merayakannya dengan santapan besar, beberapa tradisi merayakan dengan minum-minuman beralkohol. Sejumlah teman, tetangga, dan keluarga ikut merayakan dengan membuka botol pipih 350 ML bertuliskan “Vodka” di bagian depannya. Belasan orang tersebut terbawa arus kesenangan perayaan pernikahan yang tak selalu datang setiap hari.

Kebahagiaan tersebut sirna, ketika keesokan harinya beberapa orang merasa sakit, mual, dada sesak, serta penglihatan kabur. Salah seorang korban, Edi (25) adik mempelai perempuan yang ikut pesta minum-minuman tersebut sempat tidak sadarkan diri. Edi sempat dilarikan ke rumah sakit walau akhirnya tidak sempat diselamatkan. 13 orang lainnya – 5 di antaranya adalah keluarga pengantin – “terselamatkan” oleh tindakan medis yang cepat.

Tragedi “berdarah” ini disebabkan oleh minuman bermerk “Vodka” yang dibeli dari warung di kampungnya. Diduga minuman tersebut telah dicampur bahan-bahan non-pangan seperti methanol yang akibatnya adalah kebutaan bahkan kematian. Hendri, salah satu korban dan kakak dari Edi harus menjalani pengobatan selama satu minggu untuk mengobati penglihatannya yang kabur akibat minuman beralkohol palsu.

Kota Palembang mengikuti Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Selatan no. 6 Tahun 2011 yang memberlakukan pelarangan dengan pengecualian. Walaupun begitu, pelarangan ini tidak berlaku efektif dalam implementasinya, karena penjualan secara ilegal nyatanya marak beredar di berbagai sudut kota.

Razia oleh aparat hukum tidak bisa memutus niat penjual minuman palsu ini, bahkan salah satunya mengaku sudah tiga kali dirazia dan tetap akan berjualan. Tidak mengherankan apabila penjualan minuman ilegal palsu (atau dikenal dengan “vodka kw”) semakin menjamur. Di sisi lain, harga yang sangat murah (Rp. 27.000 / botol 350 ml) juga ikut mendukung penyebaran konsumsi minuman berbahaya ini. Pelarangan membuka akses minuman ilegal lebih besar daripada minuman legal.

Ibu yang anak-anaknya menjadi korban, Mursini, setahun setelah kejadian kelam tersebut masih sering terisak, mengingat kepiluan yang dialaminya kehilangan anak laki-lakinya di acara pernikahan anak perempuannya sendiri. Keluarganya seharusnya bisa mendapatkan akses terhadap konsumsi minuman yang aman dan tidak terhalangi oleh beban harga maupun pelarangan pemerintah.

 

Artikel Lainnya

Minuman Pembunuh di Depok

Cerita Korban
Minuman Pembunuh di Depok

Para korban merasakan rasa sakit yang membakar di seluruh tubuh mereka.

BACA ARTIKEL